Wednesday, June 15, 2016

EGITS' Translation Rate for Local Customers


Tuesday, June 14, 2016


Sample of My German-Indonesian Translation of a Text on Antropology


Source Text:




Target Text:


I. TANAH ASAL SUKU ABUNG 
(Lihat Lampiran 1) 

Lingkungan hidup masyarakat Abung sekarang ini dibagi menjadi sembilan belas suku yang terbentuk melalui dataran-dataran yang sangat luas yang membentang dari leren-lereng pegunungan Lampung yang tertutup oleh hutan hujan tropis lebat di Barat hingga pantai Laut Jawa yang berawa-rawa di Timur.
Dataran rendah luas ini di masa sekarang masih membentang tertutup oleh hutan purba yang tidak begitu lebat. Lapisan alluvial tanah endapan yang luas ini relatif tipis. Di antara pulau-pulau dengan hutan purba selebihnya selalu terdapat banyak ladang alang-alang. Rumput yang sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia dengan bilah-bilah daun setajam pisau sejauh mata memandang menutupi area sangat luas dari dataran rendah ini. Udara panas membakar menyatu di atas lautan rumput ini dan mencekik setiap kehidupan manusia. Seringkali orang menyaksikan area padang rumput yang sangat luas ini terbakar menjadi lautan api. Siapa pun menyulut api pada selembar bilah daun rumput dengan cepat nyala melahap masuk ke dalam dataran ini. Berhari-hari api itu kemudian mengamuk. Namun demikian, tidak lama setelah tanah kembali dingin alang-alang kembali tumbuh dari akar-akar yang tidak rusak oleh api. Setelah kebakaran tanah yang luas itu pun tetap tidak berguna bagi manusia.
Di wilayah ini terdapat pemukiman-pemukiman orang Abung hampir tanpa perkecualian di sepanjang sungai-sungai.
Pertama di sebelah selatan jalur yang bisa kita ditarik dari hulu Wai Seputih melalui pemukiman Sukadana hingga laut timur karakter lahan ini mengalami perubahan. Lahan ini lebih sesuai untuk pengembangan lahan intensif. Tetapi sampai di sini suku-suku Abung tidak lagi melakukan penetrasi. Di sini mulai masuklah ke area ini penduduk Pubian yang lebih tua sebelum orang Abung lebih dalam masuk ke Selatan. Hanya di Selatan, sebelah selatan Sukadana, suku Abung Unji di masa sebelumnya berhasil lebih dalam menerobos masuk ke sisi Pubian.
Namun demikian, perusakan tanpa batas terhadap lingkungan hidup suku-suku Abung di dataran ini hanyalah akibat dari pembukaan lahan oleh masyarakat-masyarakat ini. Suku-suku Abung mempertahankan bentuk perekonomian mereka hingga sekarang dengan hidup dari pembakaran hutan untuk membuka lahan yang mereka lakukan sejak dahulu. Di sini di area ini tidak lagi terdapat tanah vulkanik yang subur yang memungkinkan regenerasi hutan yang telah rusak itu di dalam waktu dekat. Tanah alluvial tipis itu ...

 ... penebangan pertama kali dan keberhasilan pembukaan ladang, ladang padi gogo, tidak lagi terjadi. Oleh karena itu, rumput alang-alang, pengganggu tanah, meluas pada ladang-ladang yang dibiarkan rusak. Lambat-laun hutan kembali semakin banyak mengalami kerusakan oleh kapak tebang orang Abung dan rumput alang-alang tumbuh memenuhi ladang padi gogo setelah sekali panen.
Singkat kata, ini adalah gambaran yang diberikan oleh dataran rendah di antara lereng-lereng Gunung Abung dengan ketinggian hampir 2.200 m di Barat, pantai di Timur, jalur Gunung Sugih-Sukadana di Selatan dan rawa-rawa perbatasan utara di sungai Tulang Bawang. Jika kita tidak memperhatikan suku-suku Abung utara di Tulang Bawang yang saat in secara luas hidup dari memancing dan juga suku-suku saudara mereka di utara persekutuan Buwei Lima, masih tersisa masa bear sembilan suku Abung di Selatan, yang sekarang ini masih hidup semata-mata dari pembukaan ladang dengan pembakaran hutan. Jika kita membandingkannya dengan derajat pembentukan padang rumput (steppization) di daerah-daerah ini, muncullah kesimpulan bahwa wilayah ini belum bisa mendukung kehidupan banyak generasi orang Abung. Secara keseluruhan jumlah masyarakat Abung sekarang ini sekitar 200.000 jiwa. Jadi, muncullah pertanyaan tentang asal-usul masyarakat ini. –Laut terletak di Timur. Berdasarkan pada gambaran budaya masyarakat ini secara keseluruhan, pendudukan awal tanah ini terjadi melalui Abung dari seberang laut. Di wilayah selatan terdekat hidup suku Pubian yang lebih kecil hingga saat ini dan datang melalui suku-suku Abung dari Utara dan juga melalui suku-suku Paminggir dari pantai Selatan Sumatra dengan budaya tinggi dan intensif dari Selatan. Jadi, wilayah Utara dan Selatan tetap menjadi daerah awal orang Abung saat ini. Di Utara, di seberang rawa-rawa Tulang Bawang, di sungai besar Mesudji mulai muncul area pemukiman Melayu Palembang dengan budaya tinggi di selatan. Jadi, Barat dan Barat Laut tetap menjadi daerah asal habitat yang ada sekarang ini.
Seperti bisa saya temukan pada masyarakat Abung dari semua suku yang sadar akan sejarah dataran rendah ini, mereka semua sepakat bahwa leluhur mereka pernah mengembara memasuki tempat tinggal mereka sekarang ini. Selanjutnya dari pernyataan-pernyataan tidak ada kesepakatan tentang kapan pendudukan itu terjadi. Informasi tentang daerah asal-usul juga berbeda-beda sehingga penyampaian informasi ini tidak bisa digunakan untuk analisis ilmiah. Baru setelah upaya yang lebih lama dilakukan bisa diketahui bahwa di dalam hubungan dengan daerah asal orang Abung yang tidak diketahui disebutlah satu nama yang telah didengar oleh Reisiden du Bois pada awal abad sebelumnya dan Kontroler Canne pada tahun 1860. Para Pejimbang, para kepala adat masyarakat Abung menceritakan kepada saya bahwa masyarakatnya pernah ....

II. MASA MEGALITIKUM 

A. Masyarakat Megalitikum di Pegunungan 

Di dalam penelitian-penelitian tentang daerah asal orang Abung telah jelas makna besar apa –di dalam pengertian sejarah Abung—yang berhubungan dengan masyarakat megalitikum protohistorik yang ditemukan di banyak tempat yang tersebar di seluruh pegunungan. Di sana temuan-temuan ini memungkinkan kami menarik kesimpulan penting berhubungan dengan daerah yang sangat mungkin pernah dipilih oleh para pemburu kepala sebagai tempat tinggal. Sebelum kami memulai pembahasan sejarah budaya masa hidup masyarakat Abung sebelumnya, penting kiranya membicarakan secara luas lapangan-lapangan megalitikum dan tempat-tempat sesaji dengan lapangan dan tempat-tempat sesaji mana masyarakat megalitikum di pegunungan yang telah dikenal sebelumnya juga dibahas.
Seperti telah disebutkan, masyarakat-masyarakat megalitikum ini terkonsentrasi di bagian barat pada tiga derah.1 Ada dataran tinggi Kenali di Tenggara Laut Ranau. Di sana terdapat banyak peninggalan megalitikum yang berdiri sendiri-sendiri di bagian Timur dataran tinggi di sekitar kampung Batuberak dan Kenali yang namun demikian melalui tradisi penduduk daerah itu di masa sekarang yang terkait dengan peninggalan-peninggalan itu memiliki arti yang sangat penting untuk sejarah budaya masyarakat Abung yang pernah tinggal di wilayah ini. Di lembah sungai Wai Pitai di bagian Timur pegunungan tengah ditemukan lapangan megalitikum besar yang terdiri dari lima lapangan terpisah yang dengan lempeng-lempeng batu monumental dan menhir berbentuk tugu ditariknya kesimpulan-kesimpulan penting tentang gaya hidup kelompok-kelompok masyarakat yang telah mendirikan monumen ini. Peninggalan megalitikum ketiga terletak di pegunungan selatan, tidak jauh dari Gunung Tanggamus. Di sana di kedua sisi Wai Ilahan atas terdapat dua lapangan menhir yang sangat luas. Di Tangkit Kurupan ditemukan sebuah lorong menhir yang sesuai dengan tata letaknya mungkin dahulu terdiri lebih dari 64 tiang batu dan sekarang paling tidak masih memiliki 27 objek. Tidak jauh dari tepi kanan sungai Ilahan akhirnya terdapat lapangan menhir Talangpadang, yang ditemukan dan sudah dijelaskan oleh van der Hoop beberapa puluh tahun lalu. Dahulu tentu saja masih belum mungkin untuk menyatakan sesuatu tentang asal-usul megalitikum ini. Sekarang kita tahu, ...

Wednesday, May 27, 2009

Freelance Translator: The Most Democratic Profession?


By Steve Yolen,
a professional translator

www.ccaps.net

Versão em português





I’m old enough to remember life without the Internet and e-mail.
I actually began my writing and translation career typing on manual typewriters, literally cutting and pasting to rearrange sentences and paragraphs. And I had to physically deliver — in the form of paper, faxes or even teletype messages and telegrams — my work output, actually visiting the offices of my clients and correspondents, in many cases!

The reason I’m bringing up such ancient history is because it is germane to the thesis of this article: that the freelance translation business in today’s highly technologist and electronic workplace just may well be the most democratic of professions. Through the ineffable magic of e-mail, FTPs, virtual workgroups, broadband Internet connections and cutting edge telecommunications, freelance translators today have the privilege of being able to work in almost any location they desire. And they do not have to physically interact with any of their far-flung clients. I’ve begun translation projects in Rio de Janeiro, polished them in Nova Friburgo and sent them off to clients from my sister’s farm in the Berkshire Mountains of western Massachusetts.

Out of a client portfolio of about 40 companies in six Brazilian states, the U.S. and Europe, I have personally talked to only about one-half of them (by telephone) and actually seen — face-to-face — a mere handful. Different than a decade ago, almost everything is handled via e-mail — client requests, project price quotes, product delivery. Basically, unless I want them to, my clients only know if I am male or female because of my name. All of the rest — all of the discriminatory stuff — is filtered out by the electronic interface. What this means on a personal level is quite interesting. It means that today’s professional freelance translator is judged exclusively and entirely on his or her work output — and not, as U.S. federal government equal opportunity guidelines currently are intended to protect, on race, color, sex, religion, national origin, age or disability — or for that matter such less weighty but real criteria as pregnancy, weight, personality traits, dandruff, tattoos or bad breath.

This is a revolution in the international job market. And it can be entirely attributed to the advent of the Internet and e-mail. Imagine a job interview where only your professional qualifications count. That your continued success on the job depends only on your personal capacity to fulfill the exact requirements of each project. Whether you are young or old, black or white, male or female or other sexual orientation is irrelevant. It sounds like a perfect definition of a democratic workplace, a true meritocracy. From what I can gather, the corporate environment even in the most democratic of countries, the U.S., is still very discriminatory. Here’s an explanation from David H. Greenberg about what happens when a job discrimination case gets its day in court. Greenberg is a discrimination attorney in the U.S. yet the fact that there are “discrimination attorneys” is already a good indication of the unsettled state of the employment marketplace there:

“So far, the courts have allowed employers to discriminate against people on the basis of long hair and facial hair (except when worn for religious reasons), weight (except when the weight is because of a medical condition), and because the employer wants to hire a family member or promote a family member. Under the law, an employer can refuse to hire you because you are too young, but not because you are too old (over forty). None of these are protected categories. In other words, if the category of the discrimination isn't spelled out in a statute, the employee is not protected from that form of job discrimination. Therefore, if the boss doesn't like you, but you don't know why, or the category isn't protected by law, he can fire you or not hire you for that reason.”

Well, that’s not going to happen to an Internet-savvy freelance translator. You can have facial hair and halitosis and still get work. If the boss doesn’t even know you, he won’t fire you — he’ll just judge you on the merit of your work.
So, congratulations to all freelance translators for choosing what is arguably the most democratic profession in the world. Now, of course, there is the slight problem of your being as good or better than all of those other virtual translators out there…but that’s the subject of some other column.

Steve Yolen, an American resident in Rio de Janeiro, has worked as a professional translator since 1994, although as a journalist and foreign correspondent in Brazil and South America he has been involved in translating throughout his entire career. Together with Peter Warner, he heads the Ccaps high-end English language translation service and plays in Copacabana Handshake, an American folk music band.

This article was originally published in Сcaps Newsletter (http://www.ccaps.net)

Tuesday, April 7, 2009

English-German-Indonesian Translation Service Offer

Dear Prospective Customers,

We live in a global information era and language plays an important role in a global communication. There are some languages that are internationally spoken for many purposes in the areas of business, science and technology, and also arts and culture. It is necessary in the business area for the producers who aim at winning global market to use such international languages in their marketing efforts. It is also necessary for the members of scientific society to use the languages in communicating their scientific works and findings. The languages also play an important role in technology transfer.

I am a freelance English-German-Indonesian Translator, member of Association of Indonesian Translators (Himpunan Penerjemah Indonesia/HPI at http://www.hpi.or.id ID Number: HPI-01-12-0593) and wish herewith to offer you a professional translation service.

I translate cross-disciplinary texts (e.g., economics, sociology, philosophy, architecture, technique, medicine, etc.) for scientific purpose such as journals, articles, scholarly papers, and books. I also translate documentary texts for legal and business purposes.

The translation services I offer are of the kind of human translation ones and not machine translation ones. There are indeed some computer programs that are written for the purpose, such as Transtool or any other. Indeed, they give reasonably good results in case of European languages as the source and target languages and need only minor human editing for refinement. However, they have not been able to give reasonably good results in case of European languages and Indonesian both as the source and target languages and vice versa because they are grammatically of different types. European languages belong to Indo-European family, which are grammatically of the type of flexion (i.e., declination and conjugation) and semantically multi-concept, while Indonesian is grammatically of the type of non-flexion and semantically mono-concept. Therefore, the machine translation results of the grammatically and semantically different languages require a lot of human editing for refinement and even the translation results of high difficulty level texts are often unacceptable. Thus, the human translation method is the right choice.

Here are the details of the translation rate:

a. The translation rate of English or German–Indonesian and vice versa is U.S. $0.05 per word. Of course, it is negotiable!

b. The customers will receive the print out of the translation results and also the CD containing the soft copy of the files of the translation results in Microsoft Word and in other possible formats as PDF of Adobe Acrobat Reader.

c. The customers can send the materials to translate via airmail or cargo forwarding agency such as Fedex or DHL or via Internet to my email address.

d. The materials of the translation results will be sent in the same way.

e. The texts will be translated once I have accepted the down payment of the translation service, which is 50% of the total predicted cost.

f. The payment should be transferred to my following bank account: (Provided immediately before the transfer!)

Please never hesitate to ask me questions for more information about me and my translation service! And, thank you for your kind attention.

Best regards,
Mr. Nordeen Abdellah
English-German-Indonesian Translator

Monday, April 6, 2009

Als Uebersetzer freiberuflich Arbeiten

Es war schon lange vor dem Abschlub seines Studiums in der Deutschabteilung der Pädagogischen Hochschule in 1996 dass Herr Nordeen sich mit der Übersetzung Englisch-Deutsch-Indonesisch beschäftigt hat. Er versuchte was zu verkaufen, das er ja eigentlich hatte. Er hatte Englisch- und Deutschkenntnisse, die verkauft werden konnte, um etwas Geld zu verdienen und arbeitete er seither freiberuflich als Englisch-Deutsch-Indonesischer Übersetzer. Er gab der ersten Partei, die solche Bestellung erhält, 15% von dem Wert jeder Bestellung, die er schon erledigt hat und bezahlt werden hat.

Mittlerweile, Herr Nordeen versuchte auch, die Kunden seines Übersetzungsdiensts zu identifizieren, die die Übersetzungsdienst von der ersten Partei bestellen haben, so dass er sich selbst später mit den Bestellungen befassen konnte und deshalb konnte er sein Einkommen 15% erhöhen. Es war ihm gelungen, die Bestellungen zu befassen und bestätigt er bis heutige Zeit mit der freiberuflichen Übersetzungsarbeit, sich mit seiner eigenen Bestellungen zu beschäftigen. Es ist schon was lange Zeit bis den Moment, in dem er denkt, das Geschäft mit seiner ganzen Kraft zu leiten. Endlich entscheidet er, einen Kiosk zu mieten und das Geschäft zu operieren.

Er renovierte den Kiosk und funktionierte ihn als sein Büro, wo er sich die Bestellung der Übersetzungsdienst seiner eigenen Kunden befasste. Er stellte eine Planke vor dem Büro, die den vorbeigehenden Leuten sein Übersetzungsgeschäft zeigte. Er nennt sein Geschäft “EGITS”, das die Abkürzungen von Englisch-German-Indonesian Translation Service ist.

Neulich beschäftigt er sich mit Internet, um seine Übersetzungsdienst auf den Markt zu bringen.

Working as Freelance Translator

It was long before the completion of his German study in the Institute of Teacher Training and Pedagogical Sciences that Mr. Nordeen tried to sell what he had. He was able speak both English and German. It was these abilities that he could sell for some money to support his life. Therefore, he worked as freelance English-German-Indonesian translator, handled second hand translation order and gave the first party receiving the order 15% of the money.

Meanwhile, Mr. Nordeen also tried to find the way to identify who were his real customers who made the order for the first party and to receive the order of his own. His effort was successful. That way he was able to increase his income by 15%. He has been doing the job up to the present. It has been quite long that he did the job till the moment he thought to operate the business in a more serious manner.

Ultimately, he decided to make the plan of a small and simple business and hence he rented a very simple outlet and modified it into an office-like outlet for him to make the translation transaction of his own. He placed a plank in front of the outlet indicating the name of his small business of English-German-Indonesian translation service and called the business EGITS. The outlet is the place where he operates his own business up to the present.

Recently, he makes use of Internet to do the marketing efforts of his translation service.